PERBEDAAN BUDAYA DAN BAHASA DI KECAMATAN BANTARKAWUNG DAN SALEM

PAPER

PERBEDAAN BUDAYA DAN BAHASA DI KECAMATAN BANTARKAWUNG DAN KECAMATAN SALEM

 


PAPER ini di tujukan untuk memenuhi tugas UTS(Ujian Tengah Semester) Matakuliah komunikasi lintas budaya.


Di Susun Oleh :

DITA PRAYOGA

43219015



PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK  

UNIVERSITAS PERADABAN BUMIAYU

TAHUN 2020





KATA PENGANTAR

Segala puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah-Nya dan juga kesempatan dan nikmat berupa kesehatan sehingga kami bisa menyelesaikan Laporan mata kuliah. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

Laporan ini merupakan salah satu tugas mata kuliah di program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik pada Universitas Peradaban Bumiayu. Kemudian juga tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan dan juga petunjuk selama penulisan Laporan ini.

Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan Laporan ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan Laporan ini.


Salem, 17 November 2020


Penulis








BAB I

PEMBUKAAN



Di sini saya akan membahas kebudayaan dan bahasa yang ada di kabupaten brebes. Seperti yang kita tahu kabupaten brebes memiliki banyak kecamatan seperti kecamatan salem, banjarharjo, dan bantarkawung, dan sebagian lagi ada beberapa kecamatan seperti losari, tanjung, kersana, ketanggungan dan larangan. Tapi kecamatan tersebut memiliki bahasa yang berbeda sebagian kecamatan berbahasa sunda dan kebagian kecamatan berbahasa jawa dan bahakan di satu kecamatan yang memiliki banyak desa bahasa di desa tersebut beda-beda bahasa dan mempunyai bahasa tersendiri setiap kecamatan di kabupaten brebes ini. Sepeerti kecamatan bantarakwung dan kecamatan salem 

Dan yang lebih tepatnya di kecamatan bantarkawung dan kecamatan salem walaupun tetanggan kecamatan bantarakawung memiliki dua bahasa yaitu bahasa sunda dan bahasa jawa seperti desa yang berdekatan tapi berbeda bahasa yaitu desa buaran dan desa pangabatan. Desa tersebut satu kecamatan dan bahakan saling berdekatan. Dan dari situ saya ingin lebih tahu mengapa kecamatan salem dan kecamatan bantarkawung bias berbeda bahasa dan budaya.

























BAB II

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang


1.Kecamatan Bantarkawung

Bantarkawung adalah sebuah kecamatan yang ada di Brebes terutama di bagian selatan dekat dengan kota Bumiayu, Bantarkawung sendiri memiliki kurang lebih 18 desa/kelurahan yaitu Bangbayang, Banjarsari, Bantarkawung, Bantarwaru, Cibentang, Cinanas, Ciomas, Jipang, Karangpari, Kebandungan, Legok, Pangebatan, Pangerasan, Sindangwangi, Tambakserang, Telaga, Terlaya dan Waru. Kesemuanya itu berbahasa Sunda tapi ada juga yang memakai bahasa jawa terutama di Desa Pangebatan (Buaran), Cinanas dan Cibentang. kantor kecamatan Untuk kegiatan sehari-harinya masyarakatnya memilih bertani, dan berdagang dan mayoritas beragama islam. Pusat perdagangan sendiri berada di desa Bangabayang yaitu tempat transaksi penjualan seperti pasar dan untuk selebihnya mereka selalu berbelanja ke kota Bumiayu karena di sana tempat yang paling ramai dan lengkap meskipun bahasanya tidak sama tapi itu tak menyurutkan aktivitas masyarakat sunda yang ada di Bantarkawung. Tetangga paling dekat dengan Bantarkawung yaitu kecamatan Salem dan pola hidupnya hampir sama dengan masyarakat Bantarkawung terlebih dari Salem sendiri lebih memilih pusat perbelanjaan yang ada di Bantarkawung dan Bumiayu. Apabila mengintip budaya Bantarkawung terutama suku sunda masih mengarah ke sunda jawa barat seperti adanya kentongan, angklung, jaipong yang masih melekat sekali terutama di desa Jipang sebagai pelopor menjaga kelestarian budaya sunda. Tidak heran kalau berkunjung ke desa Jipang setiap ada hajatan selalu menampilakn organ tunggal yang dicampur dengan irama sunda ala jaipong hingga alunan musiknya terdengar sampai ke desa lain yang masih berdekatan dengan desa Jipang. Kemudian kalau melihat letak Bantarkawung sendiri berada di daerah perbukitan dan pegunungan yang ditanami pohon pinus dan jati juga terdapat aliran sungai yang cukup besar seperti ciraja terletak di dukuh pakiringan, cipamali dan masih banyak lagi. Untuk sarana kemaysarakatan berada di desa Bantarkawung seperti puskesmas, kantor kecamatan dan kantor kepolisian masing-masing memiliki akses yang cukup membantu. Itulah keadaan masyarakat yang ada di Bantarkawung dan mungkin info ini masih kurang lengkap dan harus ditelusuri lebih lanjut.


2. Kecamatan Salem 

Kecamatan Salem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini terletak di ujung barat daya wilayah Kabupaten Brebes. Ibu kotanya berada di Desa Salem. Jarak ibu kota Kecamatan Salem dengan ibu kota Kabupaten Brebes yaitu sekitar 62 Km berkendara melalui Kecamatan Banjarharjo. Kecamatan ini merupakan daerah yang dikelilingi pegunungan. 

Kecamatan Salem merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Brebes bagian Selatan sebelah barat. Kecamatan ini merupakan daerah yang dikelilingi pegunungan dengan ketinggian antara 400-900 mdpl dengan suhu udara berkisar 16-22 °C. Kecamatan ini umumnya memiliki topografi berupa pegunungan dan perbukitan dengan sebuah lembah dan daratan rendah yang luas di bagian tengah sehingga mirip seperti mangkuk. Di sebelah utara terdapat Pegunungan Lio Kumbang yang memanjang dari batas Jawa Barat ke timur dibatasi aliran Sungai Pemali dengan sejumlah puncaknya seperti Gunung Pojoktiga, Gunung Lio, Gunung Kumbang, Gunung Sagara dan lainnya. Sementara di bagian selatan terdapat Perbukitan Baribis Kutabima. Dengan kondisi daerah tersebut wilayahnya merupakan daerah yang masih cukup terisolir. 



Manfaat Penelitian


Manfaatnya penelitian ini Kita bisa tahu asal usulnya kecamatan bantarkawung dan asal usulnya kecamatan salem sebagai mana sejarahnya zaman dahulu tentang kecamaatan bantarkawung dan kecamatan salem yang ada di kabupaten brebes ini sehingga bias di beri nama banatarakawung dan salem.


Dan penelitian ini saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah dan untuk saya pribadi biar mengetahui asal-usul yang sebenarnya tentang kecamatan bantarkawung dan kecamatan salem dan umumnya untuk kita semua masyarkat kecamatan bantarkawung kabupaten brebes.


Harapan saya atas penelitian ini kita biasa mengambil pelajaran dari sejarah tentang kecamatan bantarkawung dan kecamatan salem dan biasa menjaga semua peninggalan-peninggalannya ini. Seperti kita menjaga bahasa dan budaya yang telah ada sejak jaman dahulu.





























BAB III

PEMBAHASAN

1. Asal usul Kecamatan Salem

Salem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini terletak di ujung barat daya wilayah Kabupaten Brebes. Ibu kotanya berada di Desa Salem. Jarak ibu kota Kecamatan Salem dengan ibu kota Kabupaten Brebes yaitu sekitar 62 Km berkendara melalui Kecamatan Banjarharjo. Kecamatan ini merupakan daerah yang dikelilingi pegunungan. 

Semua penduduk Kecamatan Salem berbahasa dan berkebudayaan Sunda sejak berabad-abad yang lampau, sehingga mereka adalah penduduk asli di daerah ini. Pada masa lampau, daerah Salem termasuk dalam wilayah Kerajaan Galuh dan Kerajaan Pajajaran. Ada sementara cerita lisan yang mengatakan bahwa penduduk Salem ada keterkaitan dengan Kejadian Perang Bubat zaman Majapahit. Setelah Perang Bubat, ternyata tidak seluruh punggawa/pengawal/rakyat Pajajaran mati terbunuh, dan kembali ke Jawa Barat. Ada sisa-sisa punggawa tersebut menetap diwilayah kecamatan Salem. Peninggalan penduduk pertama tersebut, sebagian dapat dilihat di situs Gunung Sagara (Lautan). 

Pada abad ke-19 ditemukan naskah lontar tua di situs Gunung Sagara yang menggunakan Bahasa Sunda kuno[butuh rujukan]. Naskah ini dibawa bupati Brebes RAA. Tjandranegara dan diserahkan kepada seorang ahli bahasa KF. Holle untuk kemudian disimpan di Batavia. Paling tidak ada dua naskah Sunda yang terkenal, yaitu Sewaka Darma dari Kabuyutan Ciburuy, Garut dan Carita Ratu Pakuan, yang menyebutkan sendiri bahwa (isi) naskahnya berasal dari (dan hasil bertapa dari) Gunung Kumbang (1218). Gunung Kumbang masa lampau mungkin adalah sebuah tempat lemah dewasasana, kabuyutan, dan tempat bagi para intelektual masa kerajaan Sunda. Mungkin di sini termasuk pula Gunung Sagara, di mana Gunung Sagara terletak di lereng selatan Gunung Kumbang tersebut. 

Daerah Sunda di daerah Salem dan sekitarnya mempunyai perbedaan kebiasaan dengan daerah Sunda lainnya (Priangan, Banten, Karawang, dsb). Perbedaan tersebut terutama dapat dilihat dalam hal adat budaya, bahasa, detail bentuk-bentuk kesenian, dan juga dalam tatacara beragama. Tata cara beragama penduduk Salem kelihatannya masih terdapat unsur kegamaan Hindu dengan campuran campuran adat setempat yang kental. Pada zaman Hindia Belanda, penduduk Salem masih ada yang melestarikan atahu melaksanakan praktek perkawinan model animisme. Misalnya, jika penduduk bermaksud hendak melaksanakan pernikahan, maka mereka akan mendaki dahulu ke lereng Gunung Sagara. Jika di lereng Gunung Sagara terlihat ada burung yang melakukan perkawinan, artinya kedua mempelai tersebut direstui oleh penghuni Gunung Sagara. 

Wilayah Salem merupakan kecamatan terpencil, tetapi sempat juga ditetapkan menjadi sebuah kawedanan pada masa penjajahan Belanda. Penetapan ini diperkirakan disebabkan strategisnya daerah Salem. Pada era awal perang kemerdekaan, Salem juga menjadi pusat pertahanan atahu tempat mengungsi Bupati Brebes pro Republik. Waktu itu bupati kembar, yang pro Belanda disebut bupati Recomba berkantor di Brebes (Gandasuli), sementara bupati RI berkantor di desa Bentarsari, Salem. Mengingat daerahnya yang strategis tersebut, setelah Perang kemerdekaan usai daerah ini juga pernah menjadi daerah basis pemberontak DI/TII pimpinan Amir Fatah. 

Tahun 1960-an di daerah ini juga muncul gerakan-gerakan yang berafiliasi dengan pemberontakan G.30.S/PKI di Jakarta. Hal itu konon erat kaitannya dengan keberadaan pasukan TNI yang pernah bertugas di daerah Salem. Bagi masyarakat setempat tidak bisa dilupakan, ketika ada pasukan penumpas DI/TII (konon dari Div 449). Kejadian terakhir inilah yang menarik. Salem adalah daerah basis pesantren tradisional, tetapi kenapa banyak ditemukan anasir-anasir yang bertentangan dengan semangat pesantren. 

2. Geografi Kecamatan Salem

Kecamatan Salem merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Brebes bagian Selatan sebelah barat. Kecamatan ini merupakan daerah yang dikelilingi pegunungan dengan ketinggian antara 400-900 mdpl dengan suhu udara berkisar 16-22 °C. Kecamatan ini umumnya memiliki topografi berupa pegunungan dan perbukitan dengan sebuah lembah dan daratan rendah yang luas di bagian tengah sehingga mirip seperti mangkuk. Di sebelah utara terdapat Pegunungan Lio Kumbang yang memanjang dari batas Jawa Barat ke timur dibatasi aliran Sungai Pemali dengan sejumlah puncaknya seperti Gunung Pojoktiga, Gunung Lio, Gunung Kumbang, Gunung Sagara dan lainnya. Sementara di bagian selatan terdapat Perbukitan Baribis Kutabima. Dengan kondisi daerah tersebut wilayahnya merupakan daerah yang masih cukup terisolir. 

Sungai besar yang ada di wilayah ini adalah Sungai Cigunung dan Sungai Cibinong. Sungai Cigunung yang berhulu di gunung Pojok Tiga, melewati desa Tembong Raja, Indrajaya, Banjaran Salem dan Bentarsari dan Cibentar dan bermuara ke Sungai Pemali. Luas Wilayahnya berdasarkan Peraturan pemerintah Nomor 22 Tahun 2007 lebih kurang 15.402 ha terbagi menjadi 21 Desa. Kondisi wilayah Kecamatan Salem terdiri dari tanah sawah 2.642 Ha ( 17 %, ) tanah Kering 4.286 Ha ( 28 % ), hutan Negara 8.474 Ha ( 55 % ).Dengan daerah yang dimiliki tersebut, maka secara militer wilayah Salem merupakan daerah pertahanan yang efektif. Dengan menyandang daerah pertanian yang subur, maka tidak aneh wilayah kecamatan Salem merupakan daerah strategis secara politis. 

Masyarakat Kecamatan Salem berbahasa serta berkebudayaan Sunda mulai sejak beratus-ratus tahun yang lampau, hingga mereka yaitu masyarakat asli di daerah ini. Pada saat lampau, daerah Salem termasuk juga dalam lokasi Kerajaan Galuh serta Kerajaan Pajajaran. Ada sesaat narasi lisan yang menyampaikan bahwa masyarakat Salem ada keterikatan dengan Peristiwa Perang Bubat zaman Majapahit. Sesudah Perang Bubat, nyatanya tak semua punggawa/pengawal/rakyat Pajajaran mati terbunuh, serta kembali ke Jawa Barat. Ada sisa-sisa punggawa itu menetap diwilayah kecamatan Salem. Peninggalan masyarakat pertama itu, beberapa bisa dipandang di website Gunung Sagara (Lautan). Pada era ke-19 diketemukan naskah lontar tua di website Gunung Sagara yang memakai Bhs Sunda kuna rujukan?. Naskah ini dibawa bupati Brebes RAA. Tjandranegara serta diserahkan pada seseorang pakar bhs KF. Holle untuk lalu disimpan di Batavia. Sekurang-kurangnya ada dua naskah Sunda yang populer, yakni Sewaka Darma dari Kabuyutan Ciburuy, Garut serta Carita Ratu Pakuan, yang mengatakan sendiri bahwa (isi) naskahnya datang dari (serta hasil bertapa dari) Gunung Kumbang (1218).

Gunung Kumbang saat lampau mungkin saja yaitu suatu tempat lemah dewasasana, kabuyutan, serta tempat untuk beberapa intelektual saat kerajaan Sunda. Mungkin saja disini termasuk juga juga Gunung Sagara, dimana Gunung Sagara terdapat di lereng selatan Gunung Kumbang itu. Daerah Sunda di daerah Salem serta sekitarnya memiliki ketidaksamaan rutinitas dengan daerah Sunda yang lain (Priangan, Banten, Karawang, dsb). Ketidaksamaan itu terlebih bisa dipandang dalam soal kebiasaan budaya, bhs, detil bentuk-bentuk kesenian, serta dalam tata cara beragama. Tata langkah beragama masyarakat Salem nampaknya masih tetap ada unsur kegamaan Hindu dengan campuran- kombinasi kebiasaan setempat yang kental.

Pada zaman Hindia Belanda, masyarakat Salem masih tetap ada yang melestarikan atau melakukan praktik perkawinan jenis animisme. Umpamanya, bila masyarakat punya maksud akan melakukan pernikahan, jadi mereka bakal mendaki dulu ke lereng Gunung Sagara. Bila di lereng Gunung Sagara tampak ada burung yang lakukan perkawinan, berarti ke-2 mempelai itu disetujui oleh penghuni Gunung Sagara. Lokasi Salem adalah kecamatan terpencil, namun juga sempat diputuskan jadi suatu kawedanan pada saat penjajahan Belanda. Penetapan ini diprediksikan dikarenakan strategisnya daerah Salem. Pada masa awal perang kemerdekaan, Salem juga jadi pusat pertahanan atau tempat mengungsi Bupati Brebes pro Republik. Saat itu bupati kembar, yang pro Belanda dimaksud bupati Recomba berkantor di Brebes (Gandasuli), sesaat bupati RI berkantor di desa Bentarsari, Salem.

Mengingat daerahnya yang strategis itu, sesudah Perang kemerdekaan selesai daerah ini sempat juga jadi daerah basis pemberontak DI/TII pimpinan Amir Fatah. Th. 1960-an di daerah ini dapat nampak beberapa gerakan yang berafiliasi dengan pemberontakan G. 30. S/PKI di Jakarta. Hal semacam itu konon erat hubungannya dengan kehadiran pasukan TNI yang pernah bertugas di daerah Salem. Untuk orang-orang setempat tak dapat dilupakan, saat ada pasukan penumpas DI/TII (konon dari Div 449). Peristiwa paling akhir inilah yang menarik. Salem yaitu daerah basis pesantren tradisional, namun mengapa banyak diketemukan anasir-anasir yang bertentangan dengan semangat pesantren.

3. Budaya Kecamatan Salem

Semua penduduk Salem menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Budaya dan kesenian banyak memiliki kesamaan dengan kesenian yang berkembang di daerah Priangan Timur, seperti kiliningan, wayang golek, reog, calung, dsb. Demikian juga untuk kalangan santri terdapat kesenian terbang atahu gembyung, dan seni tari rudat.Untuk budaya dan kesenian tertentu terpengaruh dari budaya & kesenian khas Cirebon, seperti kesenian tarling. Dengan keberadaannya, kecamatan Salem menjadi sebuah wilayah ber-etnik Sunda, tetapi dibawah pengelolaan pemerintahan ber-etnik Bahasa Jawa. Demikian juga untuk kecamatan yang lain seperti kecamatan Banjarharja dan Bantarkawung.

4. Asal usul kecamatan bantarkawung


Bantarkawung adalah sebuah kecamatan yang ada di Brebes terutama di bagian selatan dekat dengan kota Bumiayu, Bantarkawung sendiri memiliki kurang lebih 18 desa/kelurahan yaitu Bangbayang, Banjarsari, Bantarkawung, Bantarwaru, Cibentang, Cinanas, Ciomas, Jipang, Karangpari, Kebandungan, Legok, Pangebatan, Pangerasan, Sindangwangi, Tambakserang, Telaga, Terlaya dan Waru. Kesemuanya itu berbahasa Sunda tapi ada juga yang memakai bahasa jawa terutama di Desa Pangebatan (Buaran), Cinanas dan Cibentang. kantor kecamatan Untuk kegiatan sehari-harinya masyarakatnya memilih bertani, dan berdagang dan mayoritas beragama islam. Pusat perdagangan sendiri berada di desa Bangabayang yaitu tempat transaksi penjualan seperti pasar dan untuk selebihnya mereka selalu berbelanja ke kota Bumiayu karena di sana tempat yang paling ramai dan lengkap meskipun bahasanya tidak sama tapi itu tak menyurutkan aktivitas masyarakat sunda yang ada di Bantarkawung. Tetangga paling dekat dengan Bantarkawung yaitu kecamatan Salem dan pola hidupnya hampir sama dengan masyarakat Bantarkawung terlebih dari Salem sendiri lebih memilih pusat perbelanjaan yang ada di Bantarkawung dan Bumiayu. Apabila mengintip budaya Bantarkawung terutama suku sunda masih mengarah ke sunda jawa barat seperti adanya kentongan, angklung, jaipong yang masih melekat sekali terutama di desa Jipang sebagai pelopor menjaga kelestarian budaya sunda. Tidak heran kalau berkunjung ke desa Jipang setiap ada hajatan selalu menampilakn organ tunggal yang dicampur dengan irama sunda ala jaipong hingga alunan musiknya terdengar sampai ke desa lain yang masih berdekatan dengan desa Jipang. Kemudian kalau melihat letak Bantarkawung sendiri berada di daerah perbukitan dan pegunungan yang ditanami pohon pinus dan jati juga terdapat aliran sungai yang cukup besar seperti ciraja terletak di dukuh pakiringan, cipamali dan masih banyak lagi. Untuk sarana kemaysarakatan berada di desa Bantarkawung seperti puskesmas, kantor kecamatan dan kantor kepolisian masing-masing memiliki akses yang cukup membantu. Itulah keadaan masyarakat yang ada di Bantarkawung dan mungkin info ini masih kurang lengkap dan harus ditelusuri lebih lanjut.


Bantarkawung adalah salah satu kecamatan di Kabupaten brebes kota bumiayu bagian barat, jawa tengah Kecamatan Bantarkawung terdiri atas 12 desa. Dusun Buaran di Desa Pangebatan adalah pusat kegiatan ekonomi masyarakat Bantarkawung bagian timur. Di desa Pangebatan terdapat SMA Negeri 1 Bantarkawung merupakan satu-satunya sekolah negeri di Kec. Bantarkawung dengan nilai akreditasi A. Di dekatnya terdapat tempat wisata Pemandian Air Panas Cipanas Buaran. Adapun kegiatan unggulan SMA Negeri 1 Bantarkawung diantaranya VolleyBall yang selalu menjuarai tingkat karesidenan Pekalongan.


5. Budaya Kecamatan Bantarkawung


Di Kecamatan Bantarkawung, Bahasa yang digunakan sebagian besar masyarakat adalah Bahasa Sunda, beberapa desa sebelah timur sebagaian besar menggunakan bahasa jawa yaitu desa cinanas, pangebatan. Wilayah Kecamatan bantarkawung, terletak antara : 108°48’47,3” sampai dengan 108°58’42,4” bujur timur. 7°6’3,6” sampai dengan 7°19’24,1” lintang selatan. Luas 205 km2 terbagi secara administratif menjadi 18 desa, 97 RW dan 413 RT. Secara topografi wilayah Bantarkawung berada pada ketinggian kurang dari 500 m dari permukaan laut. Kondisi fisik daerah berupa daratan, persawahan dan perbukitan. Kondisi perbukitan inilah yang acapkali terutama di musim “ Rendheng “ terjadi bencana alam berupa tanah longsor.


Kurang lebih itulah sejarah dari kec. Bantarkawung dan kabupaten brebes...alangkah baiknya jika kita mengenal sejarah dan menghargai sejarah. semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang sejarah khususnya bagi masyarakat bantarkawung dan umumnya bagi seluruh masyarakat indonesia.....  













BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Masyarakat Kecamatan Salem berbahasa serta berkebudayaan Sunda mulai sejak beratus-ratus tahun yang lampau, hingga mereka yaitu masyarakat asli di daerah ini. Pada saat lampau, daerah Salem termasuk juga dalam lokasi Kerajaan Galuh serta Kerajaan Pajajaran. Ada sesaat narasi lisan yang menyampaikan bahwa masyarakat Salem ada keterikatan dengan Peristiwa Perang Bubat zaman Majapahit. Sesudah Perang Bubat, nyatanya tak semua punggawa/pengawal/rakyat Pajajaran mati terbunuh, serta kembali ke Jawa Barat. Ada sisa-sisa punggawa itu menetap diwilayah kecamatan Salem. Peninggalan masyarakat pertama itu, beberapa bisa dipandang di website Gunung Sagara (Lautan). Pada era ke-19 diketemukan naskah lontar tua di website Gunung Sagara yang memakai Bhs Sunda kuna rujukan?. Naskah ini dibawa bupati Brebes RAA. Tjandranegara serta diserahkan pada seseorang pakar bhs KF. Holle untuk lalu disimpan di Batavia. Sekurang-kurangnya ada dua naskah Sunda yang populer, yakni Sewaka Darma dari Kabuyutan Ciburuy, Garut serta Carita Ratu Pakuan, yang mengatakan sendiri bahwa (isi) naskahnya datang dari (serta hasil bertapa dari) Gunung Kumbang (1218).

Gunung Kumbang saat lampau mungkin saja yaitu suatu tempat lemah dewasasana, kabuyutan, serta tempat untuk beberapa intelektual saat kerajaan Sunda. Mungkin saja disini termasuk juga juga Gunung Sagara, dimana Gunung Sagara terdapat di lereng selatan Gunung Kumbang itu. Daerah Sunda di daerah Salem serta sekitarnya memiliki ketidaksamaan rutinitas dengan daerah Sunda yang lain (Priangan, Banten, Karawang, dsb). Ketidaksamaan itu terlebih bisa dipandang dalam soal kebiasaan budaya, bhs, detil bentuk-bentuk kesenian, serta dalam tata cara beragama. Tata langkah beragama masyarakat Salem nampaknya masih tetap ada unsur kegamaan Hindu dengan campuran- kombinasi kebiasaan setempat yang kental.


B. Saran

Saya sebagai penulis, menyadari bahwa Laporan ini banyak sekali kesalahan dan sangat jauh dari kata kesempurnaan. Tentunya, penulis akan terus memperbaiki Laporan dengan penuh rasa semangat dan tanggung jawab atas semua kekurangnya. Oleh karena itu saya sebagai penulis menginingkan keritakan dan saran atas laporan yang telah saya buat ini. Dan saya benar-benar minta maaf buat atas kurang sempurananya laporan ini. 













DAFTAR PUTAKA


https://id.wikipedia.org/wiki/Bantarkawung,_Bantarkawung,_Brebes

https://id.wikipedia.org/wiki/Bantarkawung,_Brebes

http://anakodon.blogspot.com/2011/12/kecamatan-bantarkawung.html

http://saepul.blogs.uny.ac.id/2015/11/20/sejarah-kecamatan-salem/

https://id.wikipedia.org/wiki/Salem,_Brebes


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERBATASAN ANTARA INDONESIA DAN MALAYSIA (DI SARAWAK MALAYSIA DAN ENTIKONG DI KALIMANTAN BARAT)

Tugas Studi Ekskursi Dita Prayoga

Revisian Media Ini Bumiayu